
Pembakaran Obor Ulang Tahun – 26 AMGPM Cabang Tiberias II
Rumahtiga – Hujan baru saja reda malam itu, dan pelataran Gereja Fajar Hidup telah ramai. Ini pertemuan ratusan kader AMGPM Cabang Tiberias II yang tengah bersukacita dalam semangat paskah sekaligus syukuran HUT ke 26 AMGPM Cabang Tiberias II. Seakan tak ingin kehilangan moment, seluruh kursi yang disediakan di bawah langit terbuka itu penuh terisi; bahkan tak sedikit yang terpaksa harus berdiri untuk tetap berada dalam persekutuan yang bersyukur di malam itu (28/4/2017).
Sebuah puisi mulai membuka acara itu. Barisan sajak yang menceritakan pengorbanan Yesus yang menjadi spirit AMGPM itu berhasil membawa peserta ibadah dalam keheningan menghayati karya besar Allah itu. Tak lama berselang, 13 anak muda hadir di depan panggung memainkan drama perjamuan terakhir. Cerita berlanjut ke doa Yesus di taman Getsemani. Aroma kultural Maluku mulai muncul dalam sesi ini dimana sekelompok anak muda maju dengan tarian perang yang menceritakan sisi hitam dan putih yang bertarung di dalam dunia. Tak sampai disitu, pengusaan sisi hitam (iblis) yang membuat Yesus harus menanggung dosa dunia pun turut ditarikan oleh beberapa kelompok anak muda. Pesan ini menusuk sampai ke hati, pandangan saya tergambar dari beberapa penonton yang histeris saat lakon Yesus mendapatkan sejumlah perlakuan kasar ( meski sesungguhnya pukulan – pukul itu hanya akting yang telah dilatih berulang – ulang dengan perlengkapan drama yang aman). Seiring penyiksaan itu, hadir kelompok penari pukul sapu yang menggambarkan hukuman cambuk yang harus ditanggung Yesus. “Salibkan Dia, Salibkan Dia..!” – terdengar seruan dari kelompok lainnya yang memaksa penderitaan Yesus tidak berhenti dalam hukum cambuk melainkan eksekusi paling menyakitkan sepanjang sejarah manusia, Penyaliban. “Sudah Selesai” – Proklamasi Penghapusan Dosa dadi tiang kudus itu mengantarkan Yesus pada alam maut. Iblis bersukacita karena kematian Yesus yang digambarkan kelompok penari bambu gila dalam tariannya. Kematian bukan akhir cerita Yesus. Kisah pun berlanjut hingga kabar kebangkitanNya yang diresponi oleh seluruh pelakon dalam sebuah tarian modern. Alon Muskita – Ketua Cabang Tiberias II menyatakan ini adalah upaya mengapresiasikan budaya Maluku oleh anak muda sambil mewartakan Kristus yang mati dan bangkit bagi dunia.
Pdt. G. M. Likumahwa yang memimpin ibadah di malam itu dalam refleksi penuh semangatnya semakin menghanyutkan jemaat dalam penghayatan terhadap tanggung jawab pemuda yang menyatakan Kristus sebahgai Tuhan yang bangkit itu. Penampilan yang ditunjukan malam ini ikut menghadirkan kekaguman bagi Ketua Majelis jemaat GPM Rumahtiga ini. Menurutnya, sukacita yang muncul di malam ini harusnya dimaknai secara benar oleh kita. “Kekaguman terhadap Kristus yang mati dan bangkit itu tidak hanya terhenti pada peristiwa paskah saja, tapi harus berlangsung hingga saat ini dan terus berlangung dalam seluruh sejarah rancangan Allah”. Likumahwa melanjutkan – “Iman kita juga tidak boleh terhenti hanya pada kekaguman akan Kristus yang Bangkit saja. Lebih dari itu, kita harus merefleksikan pengakuan itu dengan hidup kudus. Seringkali kita ingin menyesuaikan diri dengan perubahan dunia namun tak jarang kita justru dikuasai dunia dalam hal – hal kedagingan. Jangan sampai kita yang hari ini bersorak hosanna akan menjadi pemuda yang besok dapat berteriak Salibkan Dia. Bila kita ingin memuliakan Allah, maka hiduplah di jalan Allah. Dua puluh enam tahun sudah AMGPM Cabang Tiberias II tumbuh, kita masih punya tanggung jawab mengabarkan kebangkitan itu. Mulailah dengan hal – hal sederhana. mulailah dengan berbicara yang mendatangkan berkat lalu ajarkanlah hal – hal baik bagi setiap orang disekitar kita”. Menutup refleksinya di malam itu, Ia memberikan suatu kutipan: “Hidup Kudus untuk Allah itu memang tidak mudah tapi ingatlah; Bila kita melihat pada dunia, kita hanya akan menemukan kesedihan, bila kita melihat pada diri sendiri, kita hanya akan menjumpai ketakutan, namun bila kita terfokus melihat pada Kristus, hidup kita akan selalu diperbaharukan. Berimanlah untuk hidup Kudus !!!”.
(GP)